Bu

Bu, ini aku, anakmu.

Anakmu yang terlahir dua puluh tiga tahun lalu.

Anakmu yang kini tumbuh dewasa.

Anakmu yang menahan semua hal tanpa bercerita.


Bu, maafkan aku.

Aku yang mungkin tidak sesuai ekspetasimu.

Aku yang mungkin belum bisa membahagiakanmu.

Aku yang selalu menyusahkan.

Aku yang selalu menjadi beban.

 

Bu, aku sakit.

Tubuhku rasanya menolak untuk bisa bangkit.

Helaan napaskupun kian terasa tercekit.

Bu, aku ingin kembali berdiri.

Aku ingin kembali dapat berlari.

Aku juga ingin kembali bermain voli.

Tapi untuk saat ini,

Aku hanya ingin sehat lagi.

 

Bu, tolong jangan marah.

Sama sepertimu, aku juga bisa lelah.

Walau berbeda denganmu, aku jauh lebih lemah.

Tapi ku harap kau tau, aku berusaha untuk tidak menyerah.

 

Bu, jika waktuku lebih dulu tiba,

Tolong tetap sehat dan bahagia.

Tolong tetap jadi ibuku yang jauh lebih kuat dari baja.

Tolong jangan pernah menyerah sekuat apapun badai nantinya.

 

Doaku untukmu tak pernah lepas diselepas solatku.

Aku menyayangimu jauh lebih besar dari yang kau tau.

Terima kasih, bu.

Sudah menjadi manusia terhebat dihidupku.

Aku menyayangimu.

 

November 2023,

Zahwa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Separuh

Masih Dirimu, Bu.

Opsi